nick's posts with tag: teknos
 I ni cerita awal awal kemunculan Camera Digital.
Bener bener ngiri, ngeliat yang make camera digital. jepret jepret, hasilnya langsung keliatan. Kalau nggak puas tinggal DEL, jepret2 lagi, Sementara aku yang makai Camera Film, mesti nunggu berapa waktu buat melihat hasilnya, dan kalau jelek, tidak bisa di apa2in lagi, mana ongkos cetaknya mahal pula.
Kepengen beli tapi banyak pertimbangan :
Yang pocket camera, koq hasilnya kurang memuaskan (waktu itu cuma 1,2 MP) Mau beli yang DSLR, harganya selangit, sampai2 dslr dibilang singkatan Digital Sing Larang Regane. Nikon D-1 waktu itu (2002) 45 jt
Hati berbunga bunga, waktu baca satu article yang menulis akan adanya converter film ke digital. Jadi pemilik kamera film tidak perlu beralih (baca beli lagi) ke kamera digital. Cukup beli alat itu, masukkan seperti masukin film, jepret2 jadi.
Aku pikir, tanpa perlu beli kamera sing larang regane, Nikon F401 ku udah bisa dipakai seperti kamera dslr.
Sayangnya kembali hukum pasar tidak bisa diajak kompromi. harga Kamera Digital pun menukik dengan tajam. Harga semakin murah, dan kapasitas sensornyapun semakin besar.
Akibatnya, sampai sekarang aku belun pernah melihat converter Film ke Digital di toko2 kamera.
Barangkali, harganya (th 2002 dibandrol $600, dg sensor sebesar 6 MP) terlalu mahal. Dengan uang segitu, sepertinya orang lebih memilih membeli Camera DSLR komplit.
Moga moga para ahli bisa ngulik lagi, agar itu converter, bisa lebih murah lagi.
Televisi masuk ke Indonesia (tepatnya Jakarta) tahun 1962, berbarengan dengan penyelenggaraan Asian Games ke 4, dan kemudian menyebar ke daerah2 lain.
Saat itu, Pesawat TV merupakan barang mewah, bukan cuma di Indonesia, tapi disemua negara. Tidak semua rumah punya barang ini, kalaupun ada paling cuma satu buah. Ditaruh di ruang keluarga, ditonton rame rame sama keluarga dan tetangga. Tentunya karena harganya yang mahal dan bentuknya yang besar, sehingga tidak memungkinka meletakkan diruangan lain, semisal di kamar.
Para ahlipun memeras otak, buat menciptakan suatu monitor, yang tipis, menggantikan monitor tabung CRT. Sekitar tahun2 1980 an, terciptalah layar LCD, yang tipis dan ringan. Idenya sih, orang cukup punya satu pesawat penerima TV, kemudian di share ke beberapa monitor LCD yang dipasang di ruangan lain.
Sayangnya, kemunculan layar LCD ini berbarengan dengan penurunan harga pesawat TV yang sangat tajam, sehingga harga jual monitor LCD jauh lebih mahal ketimbang harga satu pesawat penerima TV. Terpaksalah du puluhan tahun lebih layar LCD hanya di pasang di pabrikan2 layar LCD, untuk keperluan internal.

AKhirnya diubahlah, konsepnya, dari alat buat memparalel layar menjadi Pesawat penerima TV seutuhnya, TV LCD diluncurkan pada sekitar tahun 2000an. Dengan dibumbui advertensi yang cerdik, pasar TV LCD perlahan tapi pasti, menggeser TV Tabung. Walaupun harganya berlipat kali harga TV tabung.
gambar diambil dari http://www.channel-japan.com/entryimages/2006/07/060724_CRT_TV.jpg dan http://www.hotlyne.de/rich_files/attachments/Produktfotos/TV%20LCD/Sharp/Sharp_LC-46XD1E_gross.jpg
| |